UMSIDA mulai berdiri sejak tahun 1984, dimulai dengan dibukanya program kelas jauh Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang di Sidoarjo. Program perkuliahan yang diselenggarakan sore hari di Kampus SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo ini merupakan kegiatan akademik yang sebenarnya berinduk pada UMM di Malang. Mimpi memiliki perguruan tinggi Muhammadiyah di Sidoarjo adalah angan-angan sebagian aktivis Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo agar berdiri lembaga pendidikan tinggi setelah jenjang pendidikan menengah berhasil didirikan. Para mahasiswa angkatan pertama yang berjumlah 81 orang berasal dari para putra, anggota keluarga, kemenakan, alumni SMA Muhammadiyah 2, SPG Muhammadiyah Sidoarjo atau tetangga dari pengurus Cabang Muhammadiyah Sidoarjo yang “bersedia” direkrut menjadi mahasiswa di STIT Muhammadiyah Sidoarjo.

Baik aktivitas perkuliahan maupun perkantoran saat itu menempati ruang di gedung SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (saat itu juga terdapat SPG Muhammadiyah Sidoarjo) dan Kantor PCM (Pimpinan Cabang Muhammadiyah) Sidoarjo. Walaupun program perkuliahan di Sidoarjo masih berupa program kelas jauh, namun para perintis perguruan tinggi ini telah mendirikan BPPTMS (Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sidoarjo) yang disahkan oleh Akte Notaris. Nama-nama yang tercantum dalam Akte Notaris antara lain H. Abdurrahim Nur, MA., Drs. HMK Agus Salim, H. Gufron Ikhsan, Drs. Achmad Jainuri, Drs. Burhan Bungin, Abdul Hamid Kelana, BA., dan H. Kahfi Ridwan.

BPPTMS di tahun 1987 mengupayakan status perguruan tinggi di Sidoarjo ini senyampang adanya perkembangan peserta didik yang terus meningkat. Artinya program kelas jauh ini melepaskan diri dari UMM. Proses itu cukup panjang dan baru mendapatkan pengakuan secara legal dari Departemen Agama RI ketika turun SK Status Terdaftar untuk Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah (STITM) Sidoarjo pertanggal 9 Pebruari 1989 (tanggal 9 Pebruari ini dijadikan tanggal berdirinya UMSIDA). Proses yang cukup panjang karena harus mengikuti kesepakatan dengan pemerintah Kabupaten Sidoarjo dan para pimpinan perguruan tinggi di Sidoarjo tentang pendirian perguruan tinggi baru di kecamatan kota. Saat itu sudah berdiri dua perguruan tinggi di Sidoarjo, yakni STKIP PGRI dan Universitas Jenggala (Unggala). Kesepakatan itu berisi, salah satunya, tidak boleh dibuka jurusan yang sama di antara dua peguruan tinggi yang sudah ada. Kesepakatan tersebut sebenarnya adalah jalan keluar dari proses izin pendirian perguruan tinggi di Sidoarjo yang berliku-liku oleh Pemerintah Kabupaten.

Pada tahun itu pula dirintis untuk didirikan STIPER (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian), dan STIMIK (Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer) yang semuanya di bawah BPPTMS. Kedua sekolah tinggi tersebut mendapat status terdaftarnya di tahun 1990.

Pada tahun 1990 pula diupayakan untuk diselenggarakan perkuliahan pada jurusan-jurusan baru yakni Jurusan Manajemen, dan Administrasi Negara karena merespon desakan masyarakat saat itu. Karena belum memiliki sekolah tinggi sebagai induknya, maka secara administratif kedua jurusan tersebut di-merger-kan dengan perguruan tinggi lain yang berbeda. Untuk Jurusan Manajemen ber-merger dengan FE Universitas Muhammadiyah Surabaya dan kemudian berpindah ke FE Universitas Muhammadiyah Gresik. Sedangkan Jurusan Adminsitrasi Negara bermerger dengan FISIP Universitas Wijaya Putra Surabaya di Kecamatan Benowo. Sebaliknya pada tahun-tahun tersebut perguruan tinggi ini menampung kelas jauh dari FKIP Universitas Muhammadiyah Surabaya untuk jurusan-jurusan Pendidikan PKn dan Pendidikan Bahasa Indonesia. Namun kelas jauh ini pada tahun 1993 dihentikan.

Pada tahun 1994 STIE dan STISIP Muhammadiyah Sidoarjo mendapatkan SK status terdaftar dengan penambahan masing-masing satu jurusan baru di dalamnya. STIE memiliki dua jurusan, yakni Manajemen dan Akuntansi. STISIP terdiri dari dua jurusan, yakni Administrasi Negara, dan Ilmu Komunikasi. Dengan terbitnya SK status dua sekolah tinggi tersebut, berarti dua jurusan yang bermerger dengan dua perguruan tinggi di atas dihentikan.

Pada saat itu terdapat satu fenomena yang menarik, yakni tentang penyebutan nama lembaga. Sejak tahun awal berdirinya, masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya sudah menyebut lembaga ini dengan nama “universitas” untuk STIT Muhammadiyah Sidoarjo padahal perguruan tinggi ini belum lengkap dan disahkan sebagai universitas. Pada saat itu ketika Ust. H. Abdurrahim Nur menjabat Ketua STIT Muhammadiyah Sidoarjo yang pertama, tetapi masyarakat sudah menyebutnya sebagai jabatan “Rektor UNMUH Sidoarjo”. Demikian pula ketika Dr. Syafiq A. Mughni, MA menjabat Koordinator Sekolah-sekolah Tinggi Muhammadiyah Sidoarjo di tahun 1990, mayarakat menyebutnya dengan Rektor UNMUH Sidoarjo. Jika kita berurusan dengan Kopertis Wilayah VII atau Kopertais Wilayah IV, lembaga kita disebut dengan STIPER, STIMIK, STISIP, STIE atau STIT Muhammadiyah Sidoarjo, tetapi masyarakat sudah melabelkan lembaga ini dengan “Universitas Muhammadiyah Sidoarjo”.

Pada tahun 1994, UNMUH Sidoarjo membeli satu unit rumah di Jl. Raya Gelam 250 Candi dari proses lelang oleh Bank Jatim (d/h BPD Jatim) dengan pinjaman uang dari bank. Rumah itu diproyeksikan akan dijadikan Kampus II oleh rektor. Luas tanah dari rumah yang dibeli semula hanya 250 m2. Namun pada tahun-tahun berikutnya, BPPTMS berhasil memperluasnya dengan cara membeli tanah-tanah di sebelah barat dan utaranya. Tahun 1996 tiga fakultas, terdiri dari Fakultas Ekonomi (STIE), Fakultas Teknik (STIMIK), dan Fakltas Pertanian (STIPER) berpindah kampus ke Kampus II. Tiga fakultas menempati kampus baru walaupun saat itu masih berbentuk rumah. Yang tetap menempati Kampus I saat itu adalah Fakultas Tarbiyah (statusnya STIT), dan Fisip (statusnya masih STISIPOL). Dua fakultas disisakan di Kampus I karena ketersediaan tempat yang masih terbatas, lembaga masih meminjam lokal dari SMAMDA untuk ruang kantor dan perkuliahan.

Tahun 1998 Gedung A di Kampus I mulai digunakan sebagai kantor administrasi, padahal Gedung A baru diselesaikan hanya lantai I saja, lantai II masih proses penyelesaian, bahkan lantai III belum ada. Namun perpindahan ke gedung pertama di Kampus I adalah bentuk tekad dan kesungguhan para pengelola perguruan tinggi ini untuk tidak bergantung dengan lembaga lain. Sedangkan tempat perkuliahan masih menggunakan lokal di SMAMDA.

Label sebagai “universitas” secara resmi boleh disandang UNMUH Sidoarjo pada tanggal 16 Nopember 2000 ketika dikeluarkannya SK tentang penggabungan lima sekolah tinggi Muhammadiyah yang ada di Sidoarjo menjadi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Pengesahan nama universitas juga berbarengan dengan dibukanya tiga jurusan  baru di Fakultas Teknik, yakni Jurusan Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Industri. Secara kelembagaan, UNMUH Sidoarjo disetujui sebagai universitas karena saat itu memiliki komposisi perbandingan bidang ilmu yang memenuhi persyaratan Departemen Pendidikan Nasional, yakni 6:4. Artinya perbandingan 6 jurusan bidang ilmu eksakta/teknologi, dan 4 jurusan bidang ilmu sosial.

Pada tahun yang sama kelembagaan BPPTMS diganti dengan nama BPH (Badan Pelaksana Harian). BPH adalah kepanjangan tangan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai lembaga yang memiliki peran konsultatif dan pengawasan bagi pimpinan penyelenggara perguruan tinggi Muhammadiyah. Rektorat bertanggung jawab kepada BPH sebagai perwakilan PP Muhammadiyah di PTM.

Berdasarkan Pedoman Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepanjangan BPH menjadi Badan Pembina Harian. Tugas dan tanggung jawab BPH sebagaimana tercantum dalam pedoman tersebut meliputi (1)  BPH dibentuk dan bertanggung jawab kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah, (2) BPH berfungsi mewakili Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk melaksanakan tugas (a) memberi arahan dan pertimbangan kepada pimpinan PTM; (b) bersama PTM menyusun RAPBT; (c) bersama pimpinan PTM dan Senat menyusun RIP dan Statuta; (d) membuat laporan kepada PP Muhammadiyah, (3) BPH berwenang mengangkat dan memberhentikan dosen dan tenaga kependidikan atas usul pimpinan PTM, melaksanakan pembinaan dan pengawasan, dan melakukan pembinaan dan pengembangan

Dengan status baru sebagai universitas, UNMUH Sidoarjo lebih leluasa dalam mempromosikan jurusan-jurusan yang tersedia ke masyarakat, apalagi dengan tambahan beberapa jurusan baru. Sejak tahun akademik 2001/2002 penerimaan mahasiswa baru terjadi lonjakan jumlah mahasiswa baru. Pada saat itu mampu mencapai jumlah 800 mahasiswa baru. Angka yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan perolehan mahasiswa baru pada perguruan tinggi lain di Surabaya saat itu. Sejak tahun akademik itu perolehan mahasiswa baru di UNMUH Sidoarjo menunjukkan grafik yang terus meningkat.

Merespon desakan masyarakat yang semakin mempercayai kredibilitas lembaga ini, UNMUH Sidoarjo membuka perkuliahan untuk kelas pagi dimulai tahun akademik 2001/2002. Keputusan strategis ini diupayakan karena di masa-masa selanjutnya, UNMUH Sidoarjo membidik mahasiswa dari kalangan fresh graduate, para lulusan SLTA yang masih baru dan belum bekerja. Membidik calon mahasiswa fresh graduate merupakan tujuan utama setiap perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitasnya. Sebab dapat dijadikan indikasi dari pemilihan keputusan tersebut, yakni (1) angka peminat calon mahasiswa fresh graduate dapat dijadikan barometer bagi lembaga atas tingkat kepercayaan masyarakat, dan (2) pergeseran kompetiter yang asalnya lingkup Sidoarjo menjadi mengarah ke perguruan tinggi di Surabaya dan Malang. Artinya institusi ini dapat bersaing dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di Surabaya dan Malang.

Tahun 2003 dibangun satu unit gedung berlantai 3 di Kampus II yang diperuntukan bagi tiga fakultas di sana, menggantikan ruang-ruang kuliah yang tidak representatif karena sebenarnya berupa rumah yang ruangannya disekat-sekat untuk dijadikan ruang kuliah. Biaya pembangunan pada saat itu didapat dari pinjaman bank dengan mengagunkan rumah-rumah pribadi milik Pak Agus Salim dan Pak Rusdi, ketua dan anggota BPH. Saat itu universitas ini belum menjadi perguruan tinggi yang besar sehingga pihak bank belum mempercayai kelayakan lembaga untuk mendapatkan pinjaman. Sejalan dengan perkembangan jumlah mahasiswa yang terus meningkat, tahun 2006 dibangun satu unit gedung lagi berlantai 3 di Kampus II yang ketika selesai proses pembangunan ditempati oleh Fakultas Teknik.

Semboyan “dari sini pencerahan bersemi” digagas tahun 2002 dalam sebuah rapat kecil pimpinan universitas. Ide semboyan tersebut dicetuskan oleh Prof. Syafiq A. Mughni, rektor pada saat itu. Semboyan itu memiliki makna bahwa kita semua warga kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo harus mempunyai komitmen untuk mencerahkan pikiran, mental dan perilaku. Kita semua harus menjadi orang-orang yang mampu berpikir rasional, berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan berperilaku sebagai hamba Allah SWT yang menyadari hak-hak dan kewajibannya, baik kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia. Kampus harus dijadikan sebagai tempat persemaian nilai-nilai tersebut, sehingga mampu memberikan sumbangan besar terhadap masa depan masyarakat dan bangsa.

Ide dari semboyan tersebut muncul ketika perguruan tinggi ini dijadikan sasaran amuk para pendukung presiden yang dilengserkan oleh MPR tahun 2001. Mereka menganggap kelengseran presiden disebabkan oleh Amien Rais yang saat itu menjabat Ketua MPR, dan ia adalah tokoh Muhammadiyah maka seluruh bangunan sekolah dan kampus yang dianggap milik Muhammadiyah menjadi sasaran kemarahan mereka. Pihak Rektorat UNMUH Sidoarjo saat itu tidak terpancing, dan bahkan menolak uluran tangan Wakil Bupati Sidoarjo (H. Saiful Illah) untuk mengganti rugi atas kerusakan aset lembaga, gedung Kampus I dan Kampus II. Para pimpinan di Rektorat saat itu justru prihatin dengan cara berpikir dan bertindak sebagian masyarakat kita saat itu yang mudah terpengaruh dan terprovokasi tanpa mempertimbangkan secara rasional langkah-langkah yang akan mereka ambil. Oleh sebab itu dianggap bahwa masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya membutuhkan pencerahan, maka lahirlah gagasan semboyan di atas. Semboyan ini sejalan dengan salah satu missi Muhammadiyah sebagai “at-tanwir”, yang artinya pencerah.

Akronim “UMSIDA” mulai dicetuskan pada tahun 2004 dalam sebuah rapat kecil pimpinan universitas, dan semakin dimantapkan pada tahun 2005. Bagi warga kampus menyebut nama “Universitas Muhammadiyah Sidoarjo” dianggap terlalu panjang dan tidak efektif, jika dengan singkatan “UM Sidoarjo” sudah ada kesamaan dengan PTM lain, disamping itu kurang simpel dan tidak menunjukkan ciri khas lembaga. Sedangkan jika menggunakan akronim “UMS” sudah digunakan oleh perguruan tinggi lain di Solo atau Surabaya. Ada juga yang mengusulkan akronim “Umsido”, tetapi tidak didukung karena kurang menarik. Dipilihnya akronim “Umsida” dikarenakan menunjukkan kekhasan nama lembaga, singkat, dan “marketable”. Pencetus akronim Umsida dikemukakan oleh Prof Syafiq A. Mughni, sedangkan penulisan dengan “U.M.S.I.D.A” adalah usulan Drs. A. Hamid, M.Ag sekedar untuk memberikan sentuhan seni. Penetapan akronim tersebut bukan tanpa kritikan, salah satunya kritikan dilontarkan Prof. Mukhlas Samani (guru besar Unesa), “Nama itu kok mirip dengan pestisida, itu kan nama untuk pembasmi hama?” begitu selorohnya saat menjadi narasumber di kampus ini dalam sebuah seminar nasional. Pimpinan UMSIDA menanggapinya dengan ringan saja atas kekurang-sreg-an beliau.

Estafet kepemimpinan UMSIDA bergulir dari Prof. Syafiq A. Mughni kepada Prof. Achmad Jainuri terjadi pada bulan Desember 2006. Pergantian rektor disebabkan Prof. Syafiq A. Mughni mendapat tanggung jawab baru sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur periode 2006-2011, dan tidak boleh ada rangkap jabatan, maka jabatan rektornya harus dilepas. Dalam kepemimpinan yang baru UMSIDA mengalami perkembangan yang cukup pesat secara eksternal maupun internal lembaga. Di internal lembaga, UMSIDA mengalami peningkatan perwajahan terutama aspek fisik sarana dan prasarananya. Beberapa gedung baru berhasil dibangun, diantaranya Gedung Fak. Teknik, Gedung B, Gedung D, Gedung Bisnis Center, Masjid Baiturrahim, Lab Pertanian, Gedung Fak. Pertanian, membeli dan merenovasi Graha UMSIDA di Trawas, serta Gedung Fakultas Ilmu Kesehatan di Kampus IV.

Asset kampus berkembang sangat signifikan, sehingga UMSIDA dinilai sebagai salah satu PTM di Indonesia yang berkembang pesat. Keberadaan UMSIDA juga diperkenalkan melalui upaya-upaya promosi di media massa, juga melalui kerjasama dengan beberapa lembaga yang memiliki reputasi nasional, diantaranya dengan Yayasan Damandiri dalam program pelaksanaan KKN Tematik dan Pos Daya,  TVRI Jawa Timur yang beberapa kali lembaga ini berkesempatan mengisi program acara “Semanggi”, yang menampilkan keberhasilan mahasiswa KKNT Umsida untuk program memberdayakan masyarakat lewat peningkatan kemampuan ekonomi, juga kerja sama dengan PWM Jawa Timur, terutama Majelis Dikdasmen, dalam penyelenggaraan ME Award. Kiprah-kiprah yang dimotori Prof. A. Jainuri sebenarnya ingin mempromosikan bahwa UMSIDA bukan perguruan tinggi lokal lagi, namun UMSIDA adalah perguruan tinggi yang patut diperhitungkan di tingkat provinsi,  bahkan nasional.

Upaya promosi kampus selain dilakukan secara institusi juga melalui kapasitas Prof. A. Jainuri sebagai narasumber di berbagai ajang nasional seperti asesor BAN-PT, narasumber di seminar nasional maupun internasional. Beliau dalam berbagai kesempatan yang ada selalu memperkenalkan diri sebagai Rektor UMSIDA, disamping sebagai guru besar IAIN Sunan Ampel. Melalui sejumlah saluran tersebut, UMSIDA berangsur-angsur mengalami peningkatan menjadi perguruan tinggi menengah, salah satu indikasinya adalah jumlah mahasiswa antara kisaran 5.000 – 6.000 orang.

Dalam periode kepemimpinan Prof. Achmad Jainuri selain mengupayakan berbagai gebrakan di atas, juga bisa disebut dengan tahapan pemantapan ideologi karyawan dan dosen serta pembenahan tata kelola dan SDM. Upaya ini dilakukan karena didorong oleh beberapa hal. Pemantapan ideologi karena lembaga ini diharapkan memiliki ghirah yang jelas dan tegas sejalan dengan semangat perjuangan persyarikatan Muhammadiyah. Pemantapan ideologi dilakukan dengan penyampaian wawasan kemuhammadiyahan oleh tokoh-tokoh pimpinan pusat dan pimpinan wilayah Muhammadiyah lewat pengajian-pengajian bulanan. Sedangkan pembenahan SDM dan tata kelola karena menyikapi regulasi dari pemerintah tentang penataan tenaga pendidik dan kependidikan di perguruan tinggi.

Pada periode 2005 sampai sekarang, penerapan aturan pengelolaan perguruan tinggi swasta tidak berbeda dengan perguruan tinggi negeri, terutama aspek ketenagaan dosen dan karyawan. Oleh sebab itu UMSIDA melakukan penataan SDM yang ada dengan pengangkatan dosen dan karyawan tetap yang betul-betul bersedia berkhidmat di perguruan tinggi ini. Lembaga harus secara berangsur-angsur melakukan penguatan institusi dengan memberdayakan dosen dan karyawan yang tidak terikat dengan lembaga lain, institusi pemerintah maupun swasta. Artinya UMSIDA melakukan proses pembenahan pada sektor SDM-nya untuk lebih profesional, berkomitmen dan memiliki loyalitas tinggi agar sejalan dengan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.

Seluruh civitas akademika UMSIDA terus memacu semangat untuk meraih prestasi di berbagai bidang untuk meningkatkan kualitas institusi, di antaranya sejak tahun 2008 dosen-dosen didorong untuk melakukan penelitian yang didanai Ditjend Dikti Kemendiknas. Setiap tahun banyak usulan penelitian dan abdimas dari dosen UMSIDA memperoleh dana hibah dari Ditjend Dikti. Prestasi akademik ini mendapatkan apresiasi dari lembaga pemerintah tersebut, sehingga UMSIDA layak mendapat katagori perguruan tinggi cluster madya untuk bidang penelitian dan pengabdian masyarakat. Cluster madya adalah suatu katagori yang diberikan kepada LPPM universitas yang bersangkutan dengan kewenangan untuk mengelola sendiri dana yang diamanatkan selama satu tahun anggaran.

Secara lengkap penghargaan yang diraih UMSIDA meliputi: (1) Lima besar Perguruan Tinggi Swasta Unggulan Kopertis VII Jawa Timur tahun 2012; (2) Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) terbaik dari Kemendikbud tahun 2012; (3) Bidang Kelembagaan dan Tata kelola dari Kopertis tahun 2013 dan tahun 2015; (4) Penelitian, Pengabdian dan Kemahasiswaan tahun 2013 dan tahun 2015; (5) Posdaya terbaik dari Yayasan Damandiri tahun 2013; serta (6) Peraih penghargaan Damandiri Award tahun 2014. Terakhir pada April 2015 UMSIDA meraih peringkat akreditasi institusi “B” dari BAN-PT.

Pada tahun 2013 Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sidoarjo  bergabung dengan UMSIDA yang dikuatkan oleh SK Mendikbud Nomor: 520/E/O/2013 tanggal 23 Oktober 2013, tentang Izin Peleburan Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sidoarjo ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Dengan masuknya Akbid Sepanjang di bawah koordinasi UMSIDA, maka lembaga ini berganti nama menjadi Fakultas Ilmu Kesehatan, yang sejajar dengan fakultas-fakultas lain yang sudah ada sebelumnya. Penggabungan Akbid Sepanjang bermula dari Kebijakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Kebijakan itu disambut positif oleh BPH dengan pemikiran mengusulkan prodi baru di Fakultas Ilmu Kesehatan sebagai wadahnya. Akademi kebidanan Siti Khodijah bergabung dengan UMSIDA dalam wadah baru Fakultas Ilmu Kesehatan yang memiliki dua prodi, Prodi D3 Ilmu Kebidanan dan Prodi D4 Analis Kesehatan. Bergabungnya Akademi Kebidanan Siti Khodijah dan pendirian Prodi Analis Kesehatan (D4) berdasarkan surat keputusan BPH-UMSIDA nomor: E.6/100/BPH-UMSIDA/IX/2011. Bagi UMSIDA sendiri bergabungnya Akbid Siti Khodijah menjadi fakultas baru di lingkungan manajemennya membawa arti kuat, sebagai bergabungnya dua lembaga amal usaha Muhammadiyah menjadi satu kekuatan yang siap memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang pelayanan pendidikan tinggi yang lengkap dan berkualitas.

Kepemimpinan UMSIDA berganti mulai tanggal 1 Desember 2014. Kepemimpinan Prof. Achmad Jainuri telah berakhir setelah memimpin selama dua periode sejak tahun 2006. Pengganti beliau adalah Drs. Hidayatulloh, M.Si., sosok yang mewakili generasi kedua yang siap melanjutkan pengabdian lembaga dalam mengemban visi dakwah persyarikatan di tengah-tengah masyarakat global.

Rektor baru UMSIDA ini bertekad melanjutkan keberhasilan-keberhasilan kepemimpinan sebelumnya dalam membawa lembaga ini menjadi lebih maju sebagaimana yang tersebut dalam uraian visi UMSIDA, “menjadi perguruan tinggi yang bermutu di tingkat nasional pada tahun 2020”. Oleh sebab itu pergantian kepemimpinan ini memiliki makna strategis dalam pengembangan institusi UMSIDA, waktu yang tersisa lima tahun harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk mengejar visi mutu institusi dengan capaian-capaian yang nyata di berbagai aspek. Kepemimpinan yang baru sebagai tenaga muda diharapkan mampu mengejar target yang diimpikan tersebut dalam sisa waktu yang tidak terlalu lama.

Perjalanan estafet kepemimpinan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo secara singkat dapat dilhat dalam tabel di bawah.

No. Nama Masa Bakti Keterangan Jabatan
1. Ust. H. Abdurrahim Nur, MA 1984 – 1989 Ketua STIT Muhammadiyah Sda
2. Drs. H. Munawar Tohir 1989 – 1990 Koordinator Sekolah-sekolah Tinggi Muhammadiyah Sda
3. Drs. H. Syafiq A. Mughni, MA., Ph.D. 1990 – 2000 Koordinator Sekolah-sekolah Tinggi Muhammadiyah Sda
4. Prof. H. Syafiq A. Mughni, MA., Ph.D. 2000 – 2006 Rektor Univ. Muhammadiyah Sda
5. Prof. H. Achmad Jainuri, MA., Ph.D. 2006 – 2014 Rektor Univ. Muhammadiyah Sda
6. Drs. Hidayatulloh, M.Si 2014 – 2019 Rektor Univ. Muhammadiyah Sda

Kepemimpinan BPH sejak awal hingga sekarang

No. Nama Keterangan
1. Drs. H.M.K. Agus Salim Ketua BPPTMS (Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sidoarjo)
2. Drs. H.M.K. Agus Salim Ketua BPH (Badan Pelaksana Harian) UMSIDA
3. Drs. H. Muhammad Rusydi Ketua BPH UMSIDA
4. Drs. H. Muhammad Rusydi Ketua BPH (Badan Pembina Harian) UMSIDA
5. Prof. H. Achmad Jainuri, MA., Ph.D. Ketua BPH (Badan Pembina Harian) UMSIDA

Sejarah Singkat Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sidoarjo

Akademi Kebidanan Siti Khodijah didrikan tanggal 13 Juli 1968, yang pendiriannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga medis bidan di RS Siti Khodijah, Sepanjang. Pada masa awal berdirinya, lembaga ini masih berupa lembaga pendidikan pada jenjang sekolah lanjutan tingkat atas, atau Pendidikan Bidan, kemudian berganti nama menjadi SPK (Sekolah Pendidikan Kebidanan). Pendirian lembaga ini digagas oleh para pengurus ‘Aisyiyah Jawa Timur (Ibu Nadjamudin, Ibu Siswoyo, dan Ibu Musrifah Maksum). Perjuangan pendiriannya dibantu oleh anggota PWM Jawa Timur (KH Anwar Zain) dan beberapa pengurus dari PCM Sepanjang (AR Karaman, Drs. Soedarpo, Atamimi, dan Nur Komari).

Siswa pertama Pendidikan Bidan Siti Khodijah tahun 1968/1969 berjumlah 20 orang. Ke-20 orang siswa tersebut seluruhnya berasal dari luar kota karena pendiri lembaga ini meminta bantuan ‘Aisyiyah Yogyakarta untuk mengirimkan calon peserta didik yang  bisa dikirim ke Sidoarjo. Hasilnya siswi-siswi pertama kebidanan Siti Khodijah berasal dari Jakarta, Sumatera, Bali, Lombok, dan beberapa kota di Jawa Timur. Para peserta didik itu adalah calon pendaftar yang sedianya akan menjadi calon siswa Pendidikan Bidan ‘Aisyiyah Yogyakarta. Pada saat itu belum ada proses pembelajaran karena belum ada guru dan pembimbing. Siswa-siswa hanya dilatih ketrampilan di RS. Siti Khodijah Sepanjang.

Kondisi awal penyelenggaraan pendidikan bidan Siti Khodijah saat itu belum memiliki segala hal yang menjadi prasyarat penyelenggaraan, termasuk izin penyelenggaraan dari pemerintah. Bahkan belum memiliki guru tetap, guru tidak tetap dan rumah sakit.Hanya modal kenekatan yang dimiliki oleh Pimpinan ‘Aisyiyah Jawa Timur dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sepanjang.

Tahun 1970 pengelolaan Pendidikan Bidan Siti Khodijah beralih yang semula oleh Pimpinan ‘Aisyiyah Wilayah Jawa Timur beralih ke Majlis Pembinaan Kesejahteraan Umat (PKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Sehingga logo lembaga pendidikan ini berganti yang semula dilatarbelakangi lambang ‘Aisyiyah menjadi gambar seorang ibu yang menimang bayi yang dilatarbelakangi tulisan Muhammadiyah.

Tahun 1981, pemerintah melalui Departemen Kesehatan melakukan penyederhanaan dan pembaharuan sistem pendidikan tenaga kesehatan dengan melikuidasi beberapa jenis sekolah dan mengkonversi Sekolah Pengatur Rawat dan Sekolah Bidan menjadi Sekolah Perawat Kesehatan. Berdasarkan peraturan tersebut, Sekolah Bidan RS Siti Khodijah secara resmi dikonversi menjadi Sekola Perawat Kesehatan, yang mana konsekuensinya lulusan bidan menjadi berkurang, sedangkan lulusan sekolah perawat tidak bisa sepenuhnya menggantikan tugas-tugas bidan.

Merespon keadaan yang kurang menguntungkan akibat dari keputusan Menteri Kesehatan itu, Sekolah Perawat Kesehatan Siti Khodijah merancang menyelenggarakan Program Pendidikan Bidan untuk memenuhi tenaga pelayanan kesehatan khususnya program kesehatan ibu dan anak, serta keluarga berencana. Maka SPK Siti Khodijah pada tahun 1987/1988 menyelenggarakan Program Pendidikan Bidan untuk jenjang D-1.

Berdasarkan peraturan pemerintah penyelenggaraan pendidikan kesehatan diharuskan minimal D-3, maka SPK Siti Khodijah Sepanjang dikonversi menjadi Akademi Kebidanan. Terhitung sejak 1998 SPK Siti Khodijah dikonversi menjadi Akademi Kebidanan (Akbid) Siti Khodijah berdasarkan SK Menteri Kesehatan No. HK.00.6.1.1.984 tertanggal 8 April 1998. Sejak tahun 2006 pembinaan Akbid Siti Khodijah mengalami pengalihan dari Departemen Kesehatan kepada Departemen Pendidikan Nasional.

Perjalanan kepemimpinan Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sepanjang sejak awal berdirinya sampai saat ini dapat dilihat dalam tabel berikut di bawah.

No. Nama Masa Bakti Keterangan Jabatan
1. dr. H.M. Sumargo 1969 – 1970 Kepala Pendidikan Bidan
2. dr. H. Mutadi 1970 – 1981 Kepala Pendidikan Bidan
3. dr. Hj. Pudji Astuti 1981 – 1998 Kepala Sekolah Perawat Kesehatan
4. dr. Hj. Pudji Astuti 1998 – 2003 Direktur Akademi Kebidanan
5. Djauharoh, SST. 2003 – 2005 Direktur Akademi Kebidanan
6. Hj. Tutik Rusdyati, A.Per.Pen 2005 – 2010 Direktur Akademi Kebidanan
7. dr. H. Zainul Arifin, M.Kes 2010 – 2013 Direktur Akademi Kebidanan
8. dr. H. Zainul Arifin, M.Kes 2013 – 2015 Dekan Fak Ilmu Kesehatan
9. Sri Mukhodim Farida Hanum, MM., M.Kes. 2015 – 2019 Dekan Fak Ilmu Kesehatan

Pada tahun 2013 Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sepanjang dilebur ke dalam Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan menjadi Prodi Ilmu Kebidanan D3. Bergabungnya Akbid Siti Khodijah  Akademi Kebidanan Siti Khodijah Sidoarjo ke Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dalam wadah Fakultas Ilmu Kesehatan. Fakultas Ilmu Kesehatan memiliki dua program studi, yakni Program Studi Ilmu Kebidanan (D3) dan Program Studi Analis Kesehatan (D-4).